Tuesday, November 15, 2016

Cerpen " Mawar Hitam "


Cerpen " Mawar Hitam "
Cerpen " Mawar Hitam "

SUDRUN tercekam rasa panik, karena tiba-tiba Sukir juga dikabarkan mau mendaftarkan diri sebagai calon bupati untuk menjadi pesaingnya dalam pilkada nanti. Di mata Sudrun, Sukir adalah tokoh politik yang lebih populer dibanding dirinya.

Sejak lama Sukir berkecimpung dalam parpol besar sebagai pengurus cabang. Sedangkan Sudrun hanya tokoh baru danbergabung dalam parpol baru yang masih tergolong parpol gurem. Rasa optimis di hati Sudrun betapa dirinya bakal meraih kemenangan dalam pilkada tiba-tiba luntur.Sudrun kini berubah menjadi pesimis. Tapi bukan Sudrun kalau menyerah sebelum bertanding.

Jika lawan dianggap lebih kuat harus dihadapi dengan kekuatan yang seimbang atau kekuatan yang lebih hebat. Sudrun tahu,Sukir memiliki kekayaan yang lebih besar dibanding dirinya. Sukir juga punya banyak kolega, dan banyak tokoh masyarakat yang akan menjadi pendukungnya. Maka Sudrun terpaksa akan menghadapi lawan politiknya itu dengan kekuatan gaib. Tak ada pilihan lain, Sudrun kemudian segera menemui seorang dukun tua yang terkenal sakti yang tinggal di lereng gunung.

Sudrun ingin minta bantuan supernatural agar dapat meraih kemenangan dalam pilkada. “Nak Sudrun tak usah panik menghadapi lawan politik yang lebih kuat. Percayalah, Eyang punya cara khusus untuk membuatmu meraih kemenangan dalam pilkada,” tutur dukun tua setelah Sudrun menjelaskan maksud kedatangannya. “Saya akan mengangkat Eyang menjadi penasihat, jika saya menjadi bupati,” ujar Sudrun. Dukun tua itu kemudian memejamkan mata sambil komat-kamit seperti sedang membaca doa atau mantra.

Sudrun melihat dukun tua itu tampak sangat tegang. Keningnya berkerut, keringatnya membasahi lehernya. Setelah tiga menit berlalu, dukun tua itu membuka matanya dan tersenyum menatap wajah Sudrun. “Eyang telah mendapatkan wangsit khusus untukmu. Menurut bisikan gaib yang Eyang dengar, kamu harus segera menemukan bunga mawar berwarna hitam,” tutur dukun tua itu dengan mantap. Sudrun terkesima. “Mana ada mawar hitam, Eyang? Rasanya saya belum pernah melihatnya? Bahkan rasanya saya baru sekali ini mendengarnya” Dukun tua itu tertawa terkekeh-kekeh.

”Mawar hitam memang bunga yang amat sangat langka. Kalau kamu memang berbakat menjadi bupati, pasti akan mendapatkannya. Cari saja sampai kamu menemukannya. Jika perlu, sebarkan berita ke tengah masyarakat agar banyak orang yang membantu mencarinya.” Sudrun kemudian manggutmanggut dengan wajah ceria.

                                                                       ***

Kini, dalam benak Sudrun muncul gagasan untuk menyebarkan isu ke tengah masyarakat bahwa dirinya memerlukan mawar hitam untuk jimat pangkat. Jika bisa menemukannya, pasti akan menjadi bupati. Dan siapa pun yang menemukannya dan menyerahkan mawar hitam kepadanya akan mendapat hadiah berupa sebuah mobil baru dan ongkos naik haji. Dan sepulangnya dari rumah dukun tua itu, Sudrun segera mengumpulkan seluruh anggota tim suksesnya.

Di depan mereka, Sudrun melontarkan keinginannya untuk mendapatkan bunga mawar hitam. “Siapa pun yang menemukannya dan menyerahkannya kepadaku akan kuberi hadiah sebuah mobil baru dan ongkos naik haji.” Semua anggota tim suksesnya terkesima. Mereka tiba-tiba yakin betapa Sudrun ternyata kaya raya dan tertarik pada hal-hal mistis atau hal-hal gaib.

Mereka menduga Sudrun pasti punya guru supernatural yang sakti mandraguna. Mereka baru sekali mendengar orang menyebutkan bunga mawar hitam. Setahu mereka, tidak ada bunga mawar yang berwarna hitam. Mereka hanya tahu ada mawar merah, mawar putih dan mawar kuning. Kalau mawar hitam, rasanya tidak ada. Sudrun segera bicara lagi.

”Kalian tak usah bingung. Bunga mawar hitam memang amat sangat langka. Menurut guruku, bunga mawar hitam hanya muncul pada saat-saat tertentu saja ketika diperlukan seseorang untuk menduduki jabatan. Kalau aku memang berhasil memiliki mawar hitam, pasti akan meraih kemenangan dalam pilkada dan menjadi bupati yang mampu memakmurkan daerah ini.” Mereka tidak bicara lagi. Dan setelah meninggalkan rumah Sudrun,mereka segera menyebarkan berita bahwa Sudrun memerlukan bunga mawar hitam dan siapa saja yang berhasil membantunya akan mendapatkan hadiah sebuah mobil dan ongkos naik haji.

Berita itu langsung menarik perhatian masyarakat luas. Banyak orang mendiskusikannya. Ada yang tidak percaya, ada juga yang percaya. Ada yang menuduh Sudrun sengaja bikin sensasi agar namanya semakin populer mengalahkan popularitas Sukir. Tapi ada banyak orang yang langsung berusaha mencari bunga mawar hitam ke pelosok-pelosok kampung, bahkan sampai ke hutanhutan.

”Sejauh ini belum pernah ada manusia yang menanam mawar hitam. Tapi mungkin saja bunga itu ada di hutan.”
“Ya, kalau memang sudah rezekiku, di mana pun pasti akan kutemukan.” Semua pedagang bunga juga bersemangat mendiskusikan keberadaan atau ketiadaan bunga mawar hitam.
“Selama aku berdagang bunga, belum pernah ada orang yang menanyakan mawar hitam.”
“Mungkin mawar hitam bukan bunga sungguhan, tapi metafora saja.”
“Ah, bicaramu seperti penyair saja.”
“Tapi mana ada manusia yang pernah melihat atau menanam bunga mawar hitam”.

”Jangan buru-buru mengatakan tidak ada mawar hitam. Mungkin ada, tapi kita belum pernah melihatnya atau sekadar mendengar tentang keberadaannya. Kita jangan fanatik. Kita harus ingat, sampai sekarang masih banyak orang yang hanya percaya kalau bunga mawar itu pasti berwarna merah, padahal nyatanya ada mawar putih dan ada juga mawar kuning.” Sementara itu Sukir sedang mengadakan rapat dengan seluruh anggota tim suksesnya. Sukir mengajak mereka untuk mendiskusikan masalah mawar hitam yang sekarang sedang banyak dicari orang untuk diserahkan kepada Sudrun agar mendapatkan hadiah sebuah mobil baru dan ongkos naik haji.

”Ternyata diam-diam Sudrun memiliki banyak uang. Tidak bisa kita remehkan,” ujar Sukir dengan wajah murung. Hatinya dirundung panik sejak mendengar kasak-kusuk mengenai mawar hitam yang sedang dicari banyak orang. Nama Sudrun benar-benar semakin populer dan menjadi buah bibir masyarakat luas. Sukir merasa telah kalah sebelum bertanding. Rasanya ingin mundur saja sebagai calon bupati. Tapi istri dan anak-anaknya mengancam akan minggat jika Sukir mundur dari pencalonannya.

”Tenang saja. Pak Sukir pasti menang. Sudrun tak akan berhasil mendapatkan mawar hitam. Sebab, tidak akan pernah ada mawar hitam, kecuali kalau dibakar hingga hangus atau dicat hitam,” tegas seorang anggota tim suksesnya. Rekan-rekannya tertawa. Lalu, bicara sendiri-sendiri. Rapat jadi kacau.Dan Sukir hanya diam mendengar ucapan-ucapan mereka yang terdengar sangat kesal.
“Ya, Sudrun pasti hanya mengecoh masyarakat agar melupakan Pak Sukir dengan cara yang licik!”

”Percayalah, masyarakat pasti akan segera menyadari telah ditipu Sudrun! Sebab sudah pasti tidak akan ada orang yang bisa menemukan mawar hitam!”
“Mudah-mudahan Tuhan tiba-tiba menumbuhkan banyak pohon mawar berbunga hitam, agar Sudrun dikeroyok banyak orang yang menyerahkan mawar hitam dan kemudian meminta hadiah masing-masing sebuah mobil dan ongkos naik haji! Biar Sudrun bangkrut!”
“Jangan mengada-ada.”
“Tak usah berkhayal yang bukan-bukan.”
“Ehm, bagaimana kalau kita menyebarkan isu tandingan.” Tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan yang menarik Sukir.
“Apa maksudmu?” tanya Sukir.

”Kita harus menyebarkan isu tandingan. Misalnya, Pak Sukir kita isukan sedang memerlukan bunga melati berwarna lurik alias melati hitam putih. Siapa saja yang berhasil mendapatkannya dan menyerahkannya kepada Pak Sukir akan diberi hadiah sebuah mobil mewah dan sebuah rumah mewah. Pasti isu mengenai bunga melati lurik akan mengalahkan isu mawar hitam.” Sukir langsung menerima gagasan yang menarik dari anggota tim suksesnya itu. Lalu isu mengenai bunga melati lurik itu segera tersebar ke tengah masyarakat luas.Tapi masyarakat luas langsung menanggapinya dengan muak.

”Dasar tokoh politik! Sembarangan bikin isu! Mana ada melati lurik? Sejak dulu sampai kiamat, yang namanya bunga melati pasti berwarna putih polos!”
“Rupanya kedua calon bupati itu sama-sama senang menipu masyarakat! Bagaimana kalau nanti salah satunya menjadi bupati? Pasti akan menjadi bupati korup! Percuma kita memilih calon pemimpin yang suka menipu rakyat!”

Hari-hari menjelang berlangsungnya pilkada semakin banyak masyarakat yang muak kepada Sukir dan Sudrun. Banyak orang yang akan mengancam untuk memilih golput saja, karena tidak mau punya pemimpin yang suka menipu rakyat. Dan setelah pilkada digelar, suara yang masuk kemudian dihitung. Dan ternyata sebagian besar masyarakat benarbenar memilih golput. Sudrun dan Sukir hanya sama-sama memperoleh dua persen suara, sedangkan 96% suara memilih golput.

Maka pilkada dinyatakan tidak sah dan harus diulang lagi. Hari-hari berikutnya, di rumah masing-masing, Sukir dan Sudrun suka duduk-duduk lemas dengan mata menerawang dan sesekali tersenyum hambar. Sukir selalu membayangkan dirinya memetik bunga melati berwarna lurik untuk diuntai menjadi kalung. Sedangkan Sudrun juga selalu membayangkan dirinya memetik mawar hitam untuk diuntai menjadi mahkota.

No comments:

Post a Comment